Sunny
Akhirnya, setelah sekian tahun menunggu, aku kembali dipertemukan dengan Sani dan Alia. Dua sosok yang aku idolakan sejak SMP, akhirnya dapat kunikmati kembali dalam film yang sampai kapan pun tidak akan aku lupakan, Sunny. Instrumen-instrumen yang mengiringi sepanjang film ini, benar-benar menghujaniku dengan beribu bongkahan patah hati dan kesendirian yang pernah mengukir lembar hidupku. Semua yang Alia rasakan, aku merasa kisahnya mengalir di dalam tubuhku dan membuat kenangan-kenangan di otakku menyala. Hanya menyala, tidak hidup kembali. Sayangnya, aku bukan Alia yang sampai di akhir hidupnya pun masih mencari cinta sejatinya, walaupun telah ada cinta yang datang begitu sempurnanya.
Tidak. Aku bukan Alia. Aku bukan penikmat masa lalu yang seperti Alia rasakan. Aku masih bisa melihat bagaimana hari esok begitu luar biasa, sehingga aku tidak punya waktu untuk menoleh. Tapi untuk Alia dan Sani, aku punya cukup waktu untuk berlama-lama menonton mereka. Mengulang-ulang bagian instrumen yang sangat kental sekali mengiringi kisah Alia yang begitu perih terlihat dari matanya. Saat menatap Sani, gerimis yang disukainya seolah mengalir dari kelopak matanya.
Aku merasa ada yang hilang, tanpa tahu apa yang sudah kutemukan.
Aku merasa menemukan, tanpa tahu apa yang aku cari.
Dan aku seperti masih mencari, tanpa tahu apa yang sudah hilang
Manusia memiliki mimpi
Ada yang mengejar dan mewujudkannya
Ada yang mundur dan membuangnya
Ada pula yang diam, dan hanya menyimpannya sepanjang sisa hidupnya
Dan aku akan menjadi manusia yang terakhir itu
Sumenep, 20 Januari 2017
Comments
Post a Comment