Pengaruh

Belakangan ini, Indonesia masih dihebohkan dengan kepergian alm. Uje selama-lamanya. Semua kaget, termasuk juga aku yang seolah tak percaya bahwa Uje telah tiada, karena pribadi Uje sangat akrab di segala kalangan, dan aku pun sangat merasakannya walau hanya melalui televisi. Dan kepergiannya pun menyisakah kenangan yang sangaaat mendalam, pun bagi aku. Kenapa?

Jujur saja, sewaktu Uje masih sering berdakwah di layar televisi, aku tak selalu mengikutinya. Hanya kalau mood saja aku mengikutinya. Tetapi kali ini, kehilangan itu kerap terasa saat wajah-wajah binarnya menghiasi layar kaca pasca kematiannya. Pengakuan-pengakuan dari sahabat-sahabat dan istrinya membuatku tersentak akan pribadi yang sebenarnya. Aku serasa ditampar oleh kilatan petir yang mematikan. Aku menjadi semakin sadar bahwa aku bukanlah siapa-siapa. Aku adalah manusia hina yang selalu melakukan banyak dosa.

Tujuanku menulis post-ingan ini adalah untuk menceritakan betapa besarnya pengaruh Uje kepada banyak orang. Bahkan betapa bodohnya aku baru menyadari dan menyesalinya saat Uje telah tiada. Aku jadi banyak merenung tentang kematian, aku semakin meyakinkan diri bahwa aku bukanlah siapa-siapa dan dunia ini hanyalah sementara, dan banyak perubahan-perubahan kecil yang terjadi pada diriku setelah melihat tayangan dan pengakuan-pengakuan banyak orang tentang Uje.

Alhamdulillah, aku jadi merasa sedikit memerhatikan arah hidupku saat ini, tentunya semua dosa yang pernah aku lakukan. Aku juga merasa terbangun dari tidur panjang yang menyesatkanku, dan semua itu berkat perantara melalui tayangan Uje tempo dan saat ini. Bukan aku mensyukuri kepergian Uje, tapi aku menyesali mengapa baru saat ini aku menyadari saat Uje pergi? Mataku sedikit terbuka untuk terus berbenah diri menyiapkan pundi-pundi amal untuk persiapan kematian.

Uje... kami semua mencintaimu....

Comments

Popular Posts