Jungkir Balik Dunia Ana



                Apa kalian masih ingat, dulu, ada sinetron “Jungkir Balik Dunia Sissy” yang dibintangi Putri Titian? Sinetron itu booming sekali ketika aku masih SMP. Aku jadi tertarik mengangkat judul sinetron itu menjadi judul catatan isengku sekarang ini, “Jungkir Balik Dunia Ana”.

                Sudah sembilan belas tahun lamanya aku menjalani hidupku sebagai seorang gadis, gadis yang seharusnya berperilaku kalem, lemah lembut, bertutur kata yang halus, bisa memasak, bisa mempercantik diri, dan sebagainya. Namun aku, malah menyimpang dari itu semua. Aku bertindak sesuka yang aku mau. Dari dulu, aku tidak suka aturan. Aku tidak suka yang ribet-ribet, aku ingin bebas berekpresi dengan cara yang aku mau. Namun, walaupun begitu, aku masih tahu diri, aku masih mengerti batasan-batasan, aku masih bisa membedakan ini baik atau tidak, dan aku selalu berusaha untuk meredam keinginan-keinginanku yang terkadang di luar batas, karena tak selamanya keinginanku adalah hal baik. Aku bukan anak baik-baik, tapi aku selalu berusaha untuk menjadi orang baik. 

                Aku juga anak yang payah. Terkadang aku minder, entah apa penyebabnya aku pun tak tahu. Aku juga tak pandai berpenampilan, makanya, aku memilih untuk berpenampilan sesederhana mungkin, agar tak terkesan norak. Melihat teman-temanku yang lain, apalagi yang kuliah di luar kota, penampilannya bisa dibilang sangat “wah”. Sedangkan aku? Kerudung segi empat, kaos gombroh, celana jeans, dan sepatu kets sudah cukup, tidak perlu olesan apa pun. Tak perlu tas mahal dan bermerek, karena aku lebih suka menggunakan tas gendong rajut pemberian dari kakakku yang sampai kapan pun akan menjadi tas favoritku. Aku juga tidak pandai memadu madankan warna. Yang aku suka hanyalah warna hitam dan merah. Aku tidak pernah malu menjadi aku yang seperti itu. Hidupku selalu penuh warna walaupun dengan kesederhanaan. Dan semua yang tak bisa aku lihat, masih bisa aku rasakan. Karena tak selamanya apa yang kita lihat, bisa kita rasakan lewat hati.

Aku sangat bersyukur atas hidupku selama ini. Tuhan banyak memberiku berkah dari segala sisi, entah dari keluarga, sahabat, ataupun orang-orang yang membenciku sekali pun.  Tak hanya itu, Tuhan juga menitipkanku sebuah talenta yang baru aku sadari belakangan ini. Ini berhubungan dengan dunia yang sejak dulu aku cintai: sastra. Sejak SD, aku sudah menyukai sastra, banyak sekali puisi-puisi yang aku buat. Tentang apa saja! Tentang angin, tentang tahun baru, tentang perpisahan, tentang sahabat, dan masih banyak lagi. Sayangnya, semua itu hanya bisa kukenang tanpa bisa kuabadikan, karena tulisan-tulisanku sejak dulu sudah hilang entah ke mana.

Beranjak dewasa, aku semakin mencintai sastra. Aku suka membaca kalimat-kalimat indah dengan diksi yang teratur. Hal itu seperti kekuatan untukku, entah apa namanya. Aku selalu tersenyum membaca sederet kata yang penuh dengan diksi-diksi indah. Aku sangat mencintai hal itu. Mataku seolah berbinar-binar seperti melihat sebongkah harta karun ketika aku melihat kumpulan novel-novel yang tersusun rapi di Gramedia. Rasanya menjadi kepuasan tersendiri bagiku walaupun hanya sekadar melihat. Hingga akhirnya, sejak kelas 3 SMA, karya-karyaku mulai bermunculan. Namaku tertera di buku-buku yang aku hasilkan, entah itu antologi ataupun buku soloku. 

Aku tak pernah membayangkan dan memperhitungkan sebelumnya. Sastra telah banyak mengubah hidupku. Siapa sangka seorang Ana bisa mempunyai karya dengan membuat buku? Jangankan orang lain, aku saja tidak pernah menyangka. Aku seperti mempunyai dua sisi di dalam diriku sendiri. Ada kalanya aku bersikap sangat kekanak-kanakan, pelupa, lugu, bodoh, konyol, aneh, dan sifat-sifat semacam itu yang telah menjadi rahasia umum. Namun, saat aku mulai berimajinasi, mengkhayal, merenung, dan memikirkan hal-hal yang di luar dugaan, di situlah kalian akan mengenal Ana yang lain. Saat aku membuka netbook dan mulai menuliskan apa yang ada di pikiranku, aku seperti terseret ke dunia yang berbeda. Aku seperti terbebas dari keluh dunia yang semakin bising. Saat aku mulai menulis, aku merasa segala beban yang melekat terlepas begitu saja. Semua ini keluar dari dalam hati, dan aku juga menulis menggunakan hati. Jemariku seolah bergerak sendiri karena mengikuti bisikan dari hatiku. Semua tertuang begitu saja. Dan inilah yang kusebut kebebasan!

Karya-karyaku masih bisa terhitung jari. Karya-karyaku juga tak sebagus dengan mereka para senior terdahulu yang sudah punya nama. Namaku di dunia kepenulisan juga masih samar terdengar. Namun, walaupun begitu, aku tidak akan pernah berhenti di sini. Semua orang yang telah membaca karya-karyaku tentu tidak akan percaya dengan keseharian seorang Ana yang slenge’an dan berbanding terbalik dengan tulisan-tulisannya yang mungkin terkesan bijak ataupun bisa menyentuh hati mereka. 

Impianku sederhana. Aku hanya ingin setiap orang bisa menikmati hidupnya dengan cara mereka sendiri. Begitu halnya aku. Aku menikmati hidupku melalui senyum semesta, senja di sore hari, basah embun dan hangat mentari di pagi hari, rintik hujan yang menenangkan, ataupun rona pelangi yang ceria. Inspirasi untuk seorang penulis sangat penting, maka tak jarang pula mereka menghabiskan waktu mereka untuk pergi ke tempat-tempat baru hanya untuk menyegarkan pikiran mereka. Tak salah, malah sangat penting! Namun bagiku, tak perlu pergi ke gunung ataupun mengunjungi kota-kota yang belum aku kunjungi untuk mendapatkan inspirasi, karena masih banyak hal-hal di sekitarku yang bisa kujadikan inspirasi, bahkan mimpi semalam pun sangat bisa kujadikan sebuah cerita, ataupun dari daun yang berguguran bisa pula menjadi sebuah karya.

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya padaku, “Kalo kamu buat novel, inspirasinya dari mana?”
 Aku hanya tersenyum, lalu menjawab, “Bisa dari lagu, cerita orang, senja, mimpi, dan kisahku sendiri. Apa pun yang aku lihat, aku dengar, dan aku rasakan, itu bisa kujadikan inspirasi.”

Seperti yang aku bilang tadi, aku tak akan berhenti sampai di sini. Masih banyak impian yang harus aku capai. Masih banyak peluang yang belum aku temukan untuk bisa kugapai. Aku akan terus berkarya semampuku, aku ingin membawa nama kampusku agar dikenal orang, aku juga ingin kota kecil ini diketahui orang banyak, dan aku juga ingin semua orang tahu, kalau aku mempunyai keluarga dan sahabat yang sangat mencintai aku. Melalui karyaku, akan aku wujudkan semua itu! Amin :-)

Comments

Popular Posts