Asli ga tau mau dikasih judul apa :D
Senin yang terik. Siapa sangka membuat hariku juga terik? Menginjak dzuhur, ayahku menelepon ke ponsel mama, aku mendengar sedikit percakapannya, beliau minta untuk diantarkan surat penting ke rumah om-ku. Hatiku tergerak untuk mengantarkannya. Siang sangat terik, tapi kaos hitam selalu menjadi pilihanku apa pun cuacanya.
Akhirnya aku berangkat, seperti biasa, ponsel biru selalu menempel di telingaku untuk mendengarkan musik, kebiasaan sejak SMA. Awalnya tidak ada apa-apa, aku menyetir dengan telapak tangan membalik untuk menghindari panas. Aku memilih jalan yang lurus daripada belok ke kanan, karena akan memakan waktu. Sampai pada akhirnya, aku akan melewati sebuah kantor besar. Aku tak bisa menahan untuk tak menoleh. Akhirnya aku menoleh ke kantor bercat putih itu. Hatiku sedikit berdebar melihatnya, apalagi ada seorang pegawai yang keluar kantor dengan memakai seragam hijau lumut dengan pangkat di bahu kanan kirinya. Seragam yang sangat aku kenal. Aku ingin segera melewati kantor itu, namun entah mengapa tangan yang memegang kendali gas motorku memelan. Pikiranku pecah. Kejadian 11 hari yang lalu memenuhi pikiranku. Semua tahu bahwa siang ini sangat terik, tapi kejadian itu menutup pandanganku, semua detailnya kembali berputar di otakku dalam gerakan lambat. Wangi parfum yang tak pernah kukenal itu pun menyeruak tiba-tiba. Ini seperti de javu. Aku mencoba mematikan bayangan itu, namun ia semakin kuat menutup kepalaku dengan setiap detail kejadiannya.
Mataku tetap fokus ke depan, tapi pikiranku total blank! Pikiranku benar-benar melanglang pada 11 hari yang lalu di jam yang sama. Aku tak bisa mengontrol diri. Aku mulai jengah. Akhirnya aku mengegas dan menambah kecepatan motorku untuk menjauhi kantor itu. Baru beberapa detik, aku sudah dikejutkan dengan mobil avanza hitam yang memotong jalanku. Aku tahu ada mobil di depanku, tapi aku tidak tahu kalau mobil itu belok ke kiri.
Sontak aku menekan dua rem motorku dengan sekuat tenaga. Bayangan tentang lamunanku tadi pecah berkeping-keping seketika. Untung saja kedua rem motor milik kakakku itu masih berfungsi sangat amat baik, jadi aku tak perlu repot-repot jatuh terpental kalau saja rem itu mogok. Aku benar-benar tersentak dengan kejadian itu. Bagaimana tidak, aku telat mengetahui kalau mobil itu belok, dan bodohnya, aku memasang kecepatan tinggi! Dan itu semata-mata untuk melarikan diri dari kantor itu, aku takut seseorang yang kumaksud keluar dan melihatku.
Aku terdiam beberapa detik. Baru kusadari jarakku dengan mobil hanya beberapa mili saja. Dekaaaat sekali. Kulihat orang-orang di sekitarku mengatup melihat ke arahku. Aku yakin mereka diam-diam bersyukur karena kecelakaan yang disebabkan oleh gadis bodoh urung terjadi di depan mereka, setidaknya untuk saat itu. Kulirik ke arah mobil yang juga masih terdiam. Sepasang mata tajam dan sinis menatapku. Aku mual melihatnya. Jengah! Kalau saja aku tidak salah, akan aku pelototi orang itu, tapi kasusnya di sini adalah jelas-jelas aku yang salah, menerobos begitu saja mobil yang berbelok ke arah kiri.
Akhirnya aku putuskan untuk terus jalan tanpa mundur dan menyilahkan mobil itu belok terlebih dahulu. Badanku masih saja gemetaran. Dadaku berdegup luar biasa. Aku yakin wajahku pasti pucat pasi, tapi aku tak tertarik sekali untuk menatap kaca spion kiri yang memang di arahkan kepadaku. Mengingat kejadian itu saja membuat jantungku seolah merosot hingga ke perut. Setelah itu, aku membaca ayat apa pun yang aku bisa. Pelajaran penting hari itu adalah: melamun ternyata bukan perkara mudah, apalagi di jalan. Nyawa taruhannya booosss >_<
PS: Eh busettt daaah, bahasa cerita gue novel banget ya, padahal sih intinya cuma 1: hampir ketabrak gara-gara melamun :D
Comments
Post a Comment