Sepotong Rindu dari Seberang



Pada serpih malam yang gugur, bayangmu bertamu pada lamunanku. Senyummu terbit di sela gerimis, menayangkan kesenduan. Jejak langkahmu membisu, hanya bersisa mendung yang melangit. Di sini, aku tercenung bersama waktu, mengintai lara dengan semua tentangmu.
Suatu sore, aku menikmati senja. Imajiku tentangmu meletup-letup seperti euforia. Riuh tawamu menggema, menyentuh lembut dinding dadaku. Rasanya, waktu semakin melambat saat kau semakin jauh. Aku mulai khawatir, kalau sebentar lagi aku akan didera kematian yang berwujud sepi.
Ung, kini pesan-pesan singkatmu padaku mulai berkurang. Ucapan selamat pagi darimu kini mulai sepi. Canda dan tawamu tak lagi riuh di telingaku. Hariku berubah, Ung, dan semua karena kebiasaan kita yang indah kini mulai pudar. Kaubilang, kau juga sangat merindukanku, aku lega akhirnya kita merasakan hal yang sama, tetapi, Ung, aku ingin dirimu yang utuh, ada di sini. DI SINI!
Malam itu, kau memberitahuku bahwa kausedang minum jus. Kautertawa, sambil berkata kalau itu adalah kabar tidak penting, padahal setiap kabar darimu adalah penting bagiku, apa pun itu! Kautahu? Aku membutuhkannya untuk bisa bertahan, agar tetap tersenyum, agar aku yakin kau tak pernah jauh dariku.
Suara petikan gitar yang berbunyi di ponselku selalu membuat jantungku terlompat-lompat. Simbol kecil merah bertuliskan “GO” selalu membuatku kelabakan. Aku selalu berdoa keras-keras bahwa foto yang muncul di pojok kanan layar ponselku adalah fotomu, fotomu yang sedang tersenyum di atas sebuah kapal. Aku berharap bahwa SMS itu darimu. Hanya darimu.
Aku tidak mengerti kenapa aku bisa mencandui dirimu segila ini. Pergerakanmu di jejaring sosial seperti oase bagiku, tapi kau sama sekali tak membukanya. Entah kenapa merindu tiba-tiba menjadi sesuatu yang mengerikan. Aku takut untuk merindu terlalu dalam, tapi saat ini aku sudah merasakannya terlalu dalam.
Ung, semua orang bisa melihat senja, tetapi tidak semua bisa merasakan bahwa senja selalu punya cerita. Senjaku selalu merona, Ung, dan semua itu tentangmu. Waktu terus merambah pada detik yang melingkar, pada hari yang berganti, tapi itu semua tidak mengubah apa pun, kecuali rinduku yang semakin menua.
Kau mengutuhkan segala. Tentangmu, tak pernah ada jeda. Asa pada segala laku gelap dan terang. Tawamu selalu menebar keceriaan, saat lusuh diamku menguar. Dengan sabar, kauselalu meyakinkanku bahwa kau menyayangiku. Kini kesabaranmu terbayar. Karena jarak, aku jadi tahu, bahwa perlahan hatiku mulai menerimamu, walau tak sedikit pun kuungkapkan padamu.
Setiap hari, aku tak pernah berhasil menyapu bayangmu yang berserakan. Serpihan-serpihan bayangmu kembali utuh saat aku mencoba menepisnya. Kauhebat, Ung, kautahu caranya mencipta rindu, sedangkan aku, aku tak tahu cara menepisnya. Merindumu, hanya bisa ditebus dengan tatap dan temu.
Malam yang semakin abu-abu membuatku takut, kalau akhirnya kita akan merasa asing. Kaudatang membawa harapan dan pergi juga meninggalkan harapan. Namun, senyummu yang membahasakan puisi menepikan itu. Aku tenang, Ung, tapi aku juga sakit, karena menakar rindu yang entah kapan berakhir.
Satu hal, Ung, saat aku mengenalmu, aksara-aksaraku kembali hidup. Nyanyian puisiku tak pernah mati, dan malam-malamku tak pernah redup, walau kini malam tak lagi sering menghadirkanmu. Aku tetap bahagia, Ung. Aku tetap punya cara untuk menghadirkanmu di setiap hariku. Tapi aku bosan, Ung. Cara itu selalu aku gunakan setiap hari, melihat fotomu, membaca pesan-pesanmu kemarin, mendengar voice note-mu, membaca cerpen-cerpenmu, dan melewati tempat kenangan kita. Aku ingin cara lain, Ung. Aku ingin BERTEMU!
Sumenep, 5 Feb 2015
Naa~


Comments

Popular Posts