Pencarian Kedua
Entahlah, padahal niat gue tadi nggak pengen ngasih judul begituan. Tapi ya sudahlah, gue orangnya memang pelupa tingkat lagit ke delapan. Jadi maklumin aja, guys.
Gue baru aja pulang dari pasar minggu. Dan bodohnya gue baru tahu kalo di kota gue ini ada pasar minggu. Kuper apa nggak peduli kota sendiri sih? Ah, nggak taulah. Itu yang pertama. Gue sama sekali nggak ada niatan buat ke pasar minggu. Entah kenapa gue paling males kalo suruh ke pasar *cewe apaan sih! Niat pertama gue pergi ke taman bunga sama mama itu buat nyari anak ayam. Helloooo? Anak ayam bos, anak ayam!! Itu lho yang kecil dan warna-warni kayak gulali. Nah, lo tahu kan? Ya ya ya, itu yang mau gue beli. Tapi ternyata nggak ada dan nggak ada!! >.<
Dan jadilah di sini mama gue ngajak ke pasar minggu yang kebetulan juga berada di timur alun-alun kota kebanggaan gue. Akhirnya gue meng-iya-kan permintaan mama yang kecil tapi cukup berpengaruh buat pikiran gue.
Benar saja! Setelah gue memarkir sepeda gue, mata gue memicing menyapu setiap orang yang sedang tersebar di pasar minggu itu. Segala macam orang kian bersliweran di situ. Yang alay, yang ababil, yang mixing, dan segala macam bentuk manusia ada di situ!! Dan gue yakin, pasti ada satu dua orang yang gue kenal dan kenal gue di sana.
Mulailah gue dan mama berjalan ke arah timur untuk menyusuri setiap stand-stand yang berjejer rapi. Dari kejauhan gue lihat ada seorang teman gue yang alay bin lebay berdiri di dekat salah satu stand. Gue menunduk saat melewati dia dan berharap dia nggak melihat gue. Kebayang nggak sih kalau dia ngelihat gue? Pasti suaranya memecah dan mengalahkan riuhnya pasar pagi itu. Bukannya sombong atau apa, gue lagi males menampakkan diri di depan orang seramai itu. Bukan kebiasaan gue!
Please, Maaaa... Gue udah jengah. Padahal belum sampe lima menit gue berada di kerumunan orang-orang itu. Gue capek, ngantuk, dan lebih tepatnya males berada di tempat yang ramainya membludak. Tapi gue terusin nemenin mama yang terlihat semangat banget memlihat dan memilih jajanan di sana. Banyak makanan khas kota gue yang gue sendiri nggak mengerti itu apa. Dasar emang gue anak manja banget ya? >.<
Matahari makin tinggi. Mama yang tadinya pengen beli makanan yang antreannya mengalahkan bioskop itu, akhirnya menyerah dan mengajakku balik pulang. Fiuh ... Akhirnya, guys! Ini yang gue tunggu-tunggu. Tapi sebelum itu, gue dan mama membeli makanan dulu buat oleh-oleh pulang. Dan setelah itu... Beberapa meter dari tempat gue membeli makanan... Bener kan? Apa yang gue bilang? Ketakutan gue setelah tadi bertemu salah satu teman gue, dan sekarang "dia" ada di depan mata gue! Ketakutan yang kedua.
Bokapnya mantan kedua gue tengah berdiri di depan salah satu stand! Oh my god, pleaaseeee :( Gue bener-bener mati kutu, apalgi gue bareng mama. Coba aja gue sendiri atau bareng temen-temen gue, mungkin bakalan gue sapa. Nah, ini bareng mama, orang yang paling menentang hubungan gue sama mantan gue dulu.
Langsung saja gue nunduk dan nutup sebagian wajah gue pakai jilbab gue. Gue rasa "dia" ngeliat gue. Tapi gue nggak peduli *jahat banget. Gue terus berjalan dan pergi dari kerumunan orang-orang itu.
Gue ini orangnya nggak PD-an apalagi di banyak orang seperti itu. Entahlah. Gue juga bingung. Coba aja ada anak ayam, pasti gue nggak akan sampai ke tempat itu dan bertemu orang yang nggak pengen gue temui. Where are you, Cil?? :'(
Gue baru aja pulang dari pasar minggu. Dan bodohnya gue baru tahu kalo di kota gue ini ada pasar minggu. Kuper apa nggak peduli kota sendiri sih? Ah, nggak taulah. Itu yang pertama. Gue sama sekali nggak ada niatan buat ke pasar minggu. Entah kenapa gue paling males kalo suruh ke pasar *cewe apaan sih! Niat pertama gue pergi ke taman bunga sama mama itu buat nyari anak ayam. Helloooo? Anak ayam bos, anak ayam!! Itu lho yang kecil dan warna-warni kayak gulali. Nah, lo tahu kan? Ya ya ya, itu yang mau gue beli. Tapi ternyata nggak ada dan nggak ada!! >.<
Dan jadilah di sini mama gue ngajak ke pasar minggu yang kebetulan juga berada di timur alun-alun kota kebanggaan gue. Akhirnya gue meng-iya-kan permintaan mama yang kecil tapi cukup berpengaruh buat pikiran gue.
Benar saja! Setelah gue memarkir sepeda gue, mata gue memicing menyapu setiap orang yang sedang tersebar di pasar minggu itu. Segala macam orang kian bersliweran di situ. Yang alay, yang ababil, yang mixing, dan segala macam bentuk manusia ada di situ!! Dan gue yakin, pasti ada satu dua orang yang gue kenal dan kenal gue di sana.
Mulailah gue dan mama berjalan ke arah timur untuk menyusuri setiap stand-stand yang berjejer rapi. Dari kejauhan gue lihat ada seorang teman gue yang alay bin lebay berdiri di dekat salah satu stand. Gue menunduk saat melewati dia dan berharap dia nggak melihat gue. Kebayang nggak sih kalau dia ngelihat gue? Pasti suaranya memecah dan mengalahkan riuhnya pasar pagi itu. Bukannya sombong atau apa, gue lagi males menampakkan diri di depan orang seramai itu. Bukan kebiasaan gue!
Please, Maaaa... Gue udah jengah. Padahal belum sampe lima menit gue berada di kerumunan orang-orang itu. Gue capek, ngantuk, dan lebih tepatnya males berada di tempat yang ramainya membludak. Tapi gue terusin nemenin mama yang terlihat semangat banget memlihat dan memilih jajanan di sana. Banyak makanan khas kota gue yang gue sendiri nggak mengerti itu apa. Dasar emang gue anak manja banget ya? >.<
Matahari makin tinggi. Mama yang tadinya pengen beli makanan yang antreannya mengalahkan bioskop itu, akhirnya menyerah dan mengajakku balik pulang. Fiuh ... Akhirnya, guys! Ini yang gue tunggu-tunggu. Tapi sebelum itu, gue dan mama membeli makanan dulu buat oleh-oleh pulang. Dan setelah itu... Beberapa meter dari tempat gue membeli makanan... Bener kan? Apa yang gue bilang? Ketakutan gue setelah tadi bertemu salah satu teman gue, dan sekarang "dia" ada di depan mata gue! Ketakutan yang kedua.
Bokapnya mantan kedua gue tengah berdiri di depan salah satu stand! Oh my god, pleaaseeee :( Gue bener-bener mati kutu, apalgi gue bareng mama. Coba aja gue sendiri atau bareng temen-temen gue, mungkin bakalan gue sapa. Nah, ini bareng mama, orang yang paling menentang hubungan gue sama mantan gue dulu.
Langsung saja gue nunduk dan nutup sebagian wajah gue pakai jilbab gue. Gue rasa "dia" ngeliat gue. Tapi gue nggak peduli *jahat banget. Gue terus berjalan dan pergi dari kerumunan orang-orang itu.
Gue ini orangnya nggak PD-an apalagi di banyak orang seperti itu. Entahlah. Gue juga bingung. Coba aja ada anak ayam, pasti gue nggak akan sampai ke tempat itu dan bertemu orang yang nggak pengen gue temui. Where are you, Cil?? :'(
Comments
Post a Comment