My Dad is the Real King

Saat ini, giliran aku menulis semua tentang Bapak, panggilanku kepada seseorang yang telah membesarkan aku. Dialah suami tercinta mama, dan dialah bapakku terbaik di seluruh dunia!

Seperti yang telah aku tulis sebelum-sebelumnya, aku jarang berbicara, jarang terbuka dengan orang lain, termasuk keluargaku sendiri. Entah kenapa aku lebih terbuka dengan sahabat-sahabat dekatku yang memang sangat dekaaat denganku. Mungkin... ada saatnya orangtuaku tidak usah tahu apa yang sedang aku hadapi. Selama aku bisa, aku tidak akan pernah ingin menyusahkan mereka.

Bapak. Sesosok pekerja keras yang selalu menjaga anak-anaknya. Bapak jarang marah, tapi kalo sudah marah, me.nye.ram.kan. se.ka.li!!! Itu sebabnya baik aku ataupun masku, selalu patuh dan tak pernah mencari masalah, setidaknya masalah besar. Bapak adalah sosok yang keras, tapi sebenarnya lembut dan hangat.

Aku akui, banyak sifat-sifat bapak yang menurun padaku, baik yang baik ataupun yang buruk. Pekerja keras, gampang iba, konyol dan lucu, pemarah, kadang malas, pelupa juga, dan masih banyak lagi sifat-sifat yang tidak bisa aku sebutkan satu-satu di sini, karena aku merasa akulah duplikat kecil bapakku.

Saat sore tiba, tak jarang kami duduk bersama di dalam sebuah lingkaran yang sama. Damai sekali walaupun tanpa perbincangan. Dengan mama, aku sering sekali mengobrol, tapi dengan bapak, kami jarang. Aku merasa kami mengobrol dalam bahasa yang sama, pandangan yang sama, dan gerak yang sama. Obrolan kami tak terdengar, tapi sangat terasa dalam hatiku. Aku mencintainya dalam diam, sama seperti mama dan masku yang sangat aku cintai. Kami sama-sama memandangi binatang peliharaan kami yang sedang beraktivitas itu. Bapak memandang burung, dan aku memandang dua anak ayamku. Sesekali aku melihat ke arah bapak. Uban di rambutnya sudah terlihat, mungkin sudah ada beberapa. Tetapi bapak masih semangat untuk bekerja, kadang lembur sampai pagi kalau sedang ada acara besar-besaran di kotaku.

Jujur, aku tak pernah terima dengan umpatan-umpatan kasar yang sering diucapkan teman-temanku tentang polisi. Walaupun bukan bapak yang dimaksud, tapi aku tak pernah terima, karena itu adalah profesi bapakku. Profesi yang menghidupi kebutuhan keluarganya. Tahu apa mereka tentang itu semua? Bisanya hanya mengumpat saja jika berurusan dengan polisi. Mereka tidak pernah berkaca dengan sikap mereka yang mungkin tidak patuh dan memuakkanku. Tapi ah sudahlah! Tidak usah meneruskan tulisan ini dengan para bajingan tengik itu. Karena aku benar-benar murka, bukan hanya marah.

Jujur lagi, sampai detik ini, aku belum pernah mengucapkan, "Aku sayang kamu" kepada mereka. Terlalu gengsi untuk hal itu, apalagi untuk seseorang seperti aku yang memang jarang berbicara. Tapi tak pernah sedikit pun aku lewatkan mereka dalam doaku. TAK PERNAH!!!

Entah kenapa, bapak dan mama selalu bisa memenuhi permintaanku, walau sesulit dan semahal apa pun. Ya Tuhaaaan, inilah berkah terbesar yang pernah aku miliki seumur hidupku. Bapak, mama, dan masku, adalah harta paling berharga yang pernah aku miliki.

Comments

Popular Posts