Rasa-Itu



            Sejak pertemuan siang itu di Perpusda, aku merasa pasokan energiku untuk tersenyum bertumpuk berkali-kali lipat. Ada satu alasan yang aku sendiri tak yakin apakah aku harus menuliskannya di sini atau tidak. Yang jelas, aku harus mengabadikannya, di mana pun itu!

            Namanya Galih. Aku bertemunya untuk sebuah urusan di Perpusda—yang sebenarnya hanya modus, agar kami bisa bertemu berdua dan berbincang bersama. Kami akhirnya bertemu. Entahlah, aku benar-benar tidak percaya bahwa aku tengah berbincang dan tertawa bersamanya. Laki-laki pemalu yang selalu gugup jika bertemuku itu akhirnya bisa kuajak bicara dan bercanda, walau tatapannya sering berpaling dariku ketika aku menatap matanya.

            Semua terjadi begitu saja sampai akhirnya ada sesuatu yang mendorongku untuk cepat-cepat pulang ke rumah saat selesai salat tarawih. Satu hal: menunggu BBM darinya. Ada rasa yang berbeda saat kudapati notif di layar ponselku memunculkan namanya. Senyumku mengembang dan mampu mengalihkan perhatianku pada layar televisi yang menayangkan acara komedi yang selalu aku tonton. Sejak saat itu, aku mulai menyadari bahwa percikan rasa itu telah tumbuh di dadaku, membentuk euforia yang meletup pada setiap malamku, bahwa aku telah jatuh cinta pada seorang lelaki. Galih :)

Sumenep, 3 Agustus 2015
8:56 pm, Naa~ 

Comments

Popular Posts