Semua Merayakannya, dan Aku Tidak!
Semua orang tahu, bahkan terlalu tahu, malam ini pestanya orang muslim (bisa dibilang begitu). Malam ini adalah malam takbiran, dan semua orang merayakannya, dan aku tidak, seperti biasa. Semua menilai aku pasti seorang yang menyedihkan, tapi bagiku itu salah besar. Justru aku bahagia, walau tidak pernah merayakannya. Mungkin tiga tahun lalu, aku merayakannya di kampung halaman bapak, tapi aku tak ingin membagikannya di sini. Itu sama saja. Sama saja. Dan aku lebih suka begini. Berada di rumah, bersama mama, dan menonton televisi.
Oh, tidak! Malam ini aku tidak hanya menonton televisi, tapi aku juga menulis artikel dan novelku. Novel keempatku yang masih baru duapuluhan lembar itu. Sekali lagi, aku bahagia dengan kesibukanku sekarang. Aku tetap seperti mereka, bahagia, mendengarkan gema takbir bersama orang tersayang, bedanya aku di rumah, merasa aman dari keramaian dan macet yang membuatku tidak betah, serta bunyi petasan yang bersahutan yang membuat detak jantungku naik turun. Aku benci itu. Benar-benar benci petasan! Aku memutuskan untuk membencinya tiga tahun lalu kalau tidak salah. Aku trauma. Sangat!!! Dan aku benci mendengarnya!
Semua merayakannya, dan aku tidak. Memang begitu adanya. Tapi aku merasa lebih aman, walaupun aku mencemaskan dua jagoanku (bapak dan masku) di luar sana. Tapi aku sudah pesan sama Allah untuk menjaga mereka. Setiap berdoa aku selalu mendoakan tiga malaikat pelindungku di rumah. Bahkan aku lupa untuk mendoakan diriku sendiri karena terlalu sayangnya dengan mereka. Aku hanya menginginkan kebahagiaan, keselamatan, dan kesehatan mereka. Sungguh, hanya itulah berkah hidup paling berharga.
Sekali lagi, semua orang merayakannya, dan aku tidak! Tapi saat kau mengatakan aku menyedihkan, kalian salah. Karena aku bahagia! Sangat bahagia. Itulah sebabnya malam ini aku akan tidur nyenyak, karena aku memang bahagia. Selamat malam :)
Comments
Post a Comment