Eksekusi
Gue butuh Mochan, gue butuh Mbak Win, gue butuh banyak orang yang bisa ngertiin dan nenangin gue. Sungguh gue sangat butuh mereka, tapi gue rasa banyak di antara mereka yang nggak akan ngerti masalah dan maksud gue. Yang bener-bener ngerti adalah Allah dan Sas, temen gue. Karena dia juga bernasib sama seperti gue. Entahlah apa namanya itu, gue sangat gelisah sejak tadi pagi. Sejak gue ucapkan sesuatu yang sebenarnya menjadi uneg-uneg gue, tapi malah jadi seperti ini. Gue serba salah. Gue nggak ada niat ngadu ke PD 1 itu, tapi semuanya berbalik. Beliau marah dan nggak mau bantu kelas kita lagi. Akhirnya semua salah gue. Salah gue!! Dan gue bakalan jadi sasaran empuk temen-temen yang pasti memusuhi gue, atau setidaknya ngebicarain gue yang nggak-nggak. Gue tahu itu. Walaupun sebenarnya gue nggak ada niat ngadu, gue hanya cerita, konsultasi, curhat, dan sekawannya.
Sepuluh jam lagi eksekusi. EKSEKUSI. Besok adalah hari penentuan gue apakah gue ditakdirkan untuk...? Ah, sudahlah. Gue pusing!! Please, god! Help and protect me... Gue hanya bisa pasrah dan terus-terusan berdoa, begitu pun Sas yang gue yakin akan melakukan itu juga, walau pikiran tentang kejadian tadi masih mengelilingi kepalanya hingga pusing tujuh turunan. Oh, nggak, jangan dong, kasian keturunan-keturunannya kena marah Sas. Duh Gustiiii, selamatkanlah aku dan Sas .....
Sepuluh jam lagi eksekusi. EKSEKUSI. Besok adalah hari penentuan gue apakah gue ditakdirkan untuk...? Ah, sudahlah. Gue pusing!! Please, god! Help and protect me... Gue hanya bisa pasrah dan terus-terusan berdoa, begitu pun Sas yang gue yakin akan melakukan itu juga, walau pikiran tentang kejadian tadi masih mengelilingi kepalanya hingga pusing tujuh turunan. Oh, nggak, jangan dong, kasian keturunan-keturunannya kena marah Sas. Duh Gustiiii, selamatkanlah aku dan Sas .....
Comments
Post a Comment