The Adventure of Ana
Di sebuah supermarket....
Di supermarket itu, adalah tempatku dan mama biasa berbelanja. Dan tadi sore, kegilaanku muncul lagi. Bedanya, aku sendiri, tanpa teman-teman yang selalu menemani seperti sebelum-sebelumnya. Oke, singkat cerita, aku dan mama sudah sampai di tempat. Kami masuk, mencari-cari barang yang ingin dibeli. Yah, seperti biasa lah. Tetapi, mama dan aku berpisah. Mama mencari barang-barang belanjaannya sendiri, aku pun begitu.
Oke... beberapa barang sudah masuk ke dalam keranjang bawaanku. Nah, aku bingung mau beli apa lagi. Eh, bukan. Bukan bingung, tapi lupa. Sifat jelek yang sudah menjadi kebiasaan. Ya sudah, aku pun menghampiri rak-rak sabun yang tertata rapi. Tanpa sengaja, ekor mataku menangkap sebuah pemandangan aneh. Seorang mas-mas yang berada tak jauh dariku juga sedang melihat-lihat barang. Penampilannya cukup kumal. Berjaket hitam, memakai sarung serta kopiah yang awut-awutan membuatku curiga. Apalagi, gelagat dia yang menempel-nempelkan tubuhnya di rak-rak tempat makanan ringan dan wafer-wafer menarik perhatianku.
"Kayaknya mau maling nih," pikirku.
Aku terus memerhatikan gelagatnya. Sambil menahan tawa, aku berlagak sebagai detektif. Aku pura-pura memilih sabun cuci tangan di rak paling bawah, itu artinya aku harus berjongkok, dan memang itu tujuanku. Sementara mas-mas itu terlihat bingung dan semakin mencurigakan. Aku pun mulai memicingkan mata untuk mempertajam penglihatan. Sesekali membenarkan letak kacamata yang merosot hampir ke batang hidung.
Kutahan sebisa mungkin tawa agar tak meledak dan menarik perhatian orang-orang sekitar. Mas-mas itu terus saja memilih-milih wafer dan makanan ringan yang ingin dibeli, tapi tak kunjung pula didapat. Wajahnya bingung, sikapnya aneh, membuat dugaanku semakin akurat saja. Sesekali kami jadi salting karena mata kami bertemu, membuat senyumku tak dapat kusembunyikan. Eh, tapi bukan senyum untuk dia, melainkan menahan tawa karena aku sadar sikapku yang sangat amat konyol.
Untuk meredakan acara tahan tawaku dalam detektif konyol ini, aku merogoh ponsel dari saku jaketku untuk meng-SMS temanku. Tentu saja mataku masih terus mengawasi dia walaupun aku sedang mengetik SMS. Oke! Message has been delivered!
Loh? Mana? Mana dia? Mas-mas itu hilang. Astagaaa, aku lengah, dan mas-mas itu memanfaatkan kelengahanku rupanya. Segera aku memasukkan lagi ponselku ke saku jaket. Aku tak berdiri, tetap dalam posisi jongkok sambil maju beberapa langkah dan menyapu pandangan ke tiap sudut rak. Tapi... Ah, sial! Aku masih saja belum menemukannya. Ke mana dia? Jangan-jangan dia sudah kabur dengan membawa beberapa snack? Aduh, aku mulai sedikit khawatir. Geripo menyerang kalbu :D Aku terus tolah-toleh mencari keberadaannya yang sebenarnya aku masih yakin berada di sini.
Tak lama kemudian...
Deng... Deng...!! Toeng... Toeng....!! Jedder!!!!!! Dia kini ada di depanku. Melihatku tajam dengan wajah sangar, sinis, dan anehnya. Dengan jelas kulihat dari atas sampai bawah penampilannya yang mirip seperti, ehem, maaf, penjahat. Ia membawa beberapa wafer dan snack di dalam genggamannya. Aku sempat nyengir dibuatnya karena dia memergokiku, dalam keadaan konyol pula!! Akhirnya, dia ngeloyor pergi ke tempat kasir, membiarkanku yang ngakak sendirian sambil menutup mulutku.
"Ana! Ngapain kamu di sini?" Mama datang mengagetkanku.
Aku hanya menggeleng sambil tetap tersenyum mengingat kejadian tadi. Barulah aku bangkit. Mengangkat keranjang belanjaanku sendiri yang sudah berat, mengiringi mama berjalan ke tempat kasir.
Mas-mas itu sudah pergi sejak tadi. Tapi karenanya, aku benar-benar tak bisa melupakan kejadian yang membuatku terlihat konyol setengah mati. Oke, aku yang salah. So guys, jangan pernah menilai penampilan orang dari luarnya saja, kalau tidak ingin mengalami kejadian konyol sepertiku :D Tetap waspada :)
_Salam Tawa_
Di supermarket itu, adalah tempatku dan mama biasa berbelanja. Dan tadi sore, kegilaanku muncul lagi. Bedanya, aku sendiri, tanpa teman-teman yang selalu menemani seperti sebelum-sebelumnya. Oke, singkat cerita, aku dan mama sudah sampai di tempat. Kami masuk, mencari-cari barang yang ingin dibeli. Yah, seperti biasa lah. Tetapi, mama dan aku berpisah. Mama mencari barang-barang belanjaannya sendiri, aku pun begitu.
Oke... beberapa barang sudah masuk ke dalam keranjang bawaanku. Nah, aku bingung mau beli apa lagi. Eh, bukan. Bukan bingung, tapi lupa. Sifat jelek yang sudah menjadi kebiasaan. Ya sudah, aku pun menghampiri rak-rak sabun yang tertata rapi. Tanpa sengaja, ekor mataku menangkap sebuah pemandangan aneh. Seorang mas-mas yang berada tak jauh dariku juga sedang melihat-lihat barang. Penampilannya cukup kumal. Berjaket hitam, memakai sarung serta kopiah yang awut-awutan membuatku curiga. Apalagi, gelagat dia yang menempel-nempelkan tubuhnya di rak-rak tempat makanan ringan dan wafer-wafer menarik perhatianku.
"Kayaknya mau maling nih," pikirku.
Aku terus memerhatikan gelagatnya. Sambil menahan tawa, aku berlagak sebagai detektif. Aku pura-pura memilih sabun cuci tangan di rak paling bawah, itu artinya aku harus berjongkok, dan memang itu tujuanku. Sementara mas-mas itu terlihat bingung dan semakin mencurigakan. Aku pun mulai memicingkan mata untuk mempertajam penglihatan. Sesekali membenarkan letak kacamata yang merosot hampir ke batang hidung.
Kutahan sebisa mungkin tawa agar tak meledak dan menarik perhatian orang-orang sekitar. Mas-mas itu terus saja memilih-milih wafer dan makanan ringan yang ingin dibeli, tapi tak kunjung pula didapat. Wajahnya bingung, sikapnya aneh, membuat dugaanku semakin akurat saja. Sesekali kami jadi salting karena mata kami bertemu, membuat senyumku tak dapat kusembunyikan. Eh, tapi bukan senyum untuk dia, melainkan menahan tawa karena aku sadar sikapku yang sangat amat konyol.
Untuk meredakan acara tahan tawaku dalam detektif konyol ini, aku merogoh ponsel dari saku jaketku untuk meng-SMS temanku. Tentu saja mataku masih terus mengawasi dia walaupun aku sedang mengetik SMS. Oke! Message has been delivered!
Loh? Mana? Mana dia? Mas-mas itu hilang. Astagaaa, aku lengah, dan mas-mas itu memanfaatkan kelengahanku rupanya. Segera aku memasukkan lagi ponselku ke saku jaket. Aku tak berdiri, tetap dalam posisi jongkok sambil maju beberapa langkah dan menyapu pandangan ke tiap sudut rak. Tapi... Ah, sial! Aku masih saja belum menemukannya. Ke mana dia? Jangan-jangan dia sudah kabur dengan membawa beberapa snack? Aduh, aku mulai sedikit khawatir. Geripo menyerang kalbu :D Aku terus tolah-toleh mencari keberadaannya yang sebenarnya aku masih yakin berada di sini.
Tak lama kemudian...
Deng... Deng...!! Toeng... Toeng....!! Jedder!!!!!! Dia kini ada di depanku. Melihatku tajam dengan wajah sangar, sinis, dan anehnya. Dengan jelas kulihat dari atas sampai bawah penampilannya yang mirip seperti, ehem, maaf, penjahat. Ia membawa beberapa wafer dan snack di dalam genggamannya. Aku sempat nyengir dibuatnya karena dia memergokiku, dalam keadaan konyol pula!! Akhirnya, dia ngeloyor pergi ke tempat kasir, membiarkanku yang ngakak sendirian sambil menutup mulutku.
"Ana! Ngapain kamu di sini?" Mama datang mengagetkanku.
Aku hanya menggeleng sambil tetap tersenyum mengingat kejadian tadi. Barulah aku bangkit. Mengangkat keranjang belanjaanku sendiri yang sudah berat, mengiringi mama berjalan ke tempat kasir.
Mas-mas itu sudah pergi sejak tadi. Tapi karenanya, aku benar-benar tak bisa melupakan kejadian yang membuatku terlihat konyol setengah mati. Oke, aku yang salah. So guys, jangan pernah menilai penampilan orang dari luarnya saja, kalau tidak ingin mengalami kejadian konyol sepertiku :D Tetap waspada :)
_Salam Tawa_
Comments
Post a Comment