Mas Yoyon
Mas Yoyon?? Wah... Sepertinya cuma di sini nih aku memanggilnya dengan sebutan "Mas". Aku pun tak tahu kapan terakhir kali aku memanggilnya dengan sebutan sopan itu. Yang jelas, aku "pensiun" memanggilnya "Mas" karena saat itu aku ingat, kami berdua rebut-rebutan remot. Jelas sudah, aku yang sangat egois tidak mau mengalah, begitupun juga Mas, dan akhirnya aku sebal, panggilan sopan itu aku abaikan hingga detik ini, sehingga aku hanya memanggilny "Yoyon", bukan "Mas Yoyon".
Yoyon itu kakak lelaki satu-satunya yang aku punya. Sangat beruntung mempunyai kakak laki-laki karena banyak sekali teman-temanku yang iri akan hal itu. Sedangkan aku, aku adalah adik yang pemarah, menyebalkan, dan egois. Ya, begitulah aku. Karena aku tak pernah tahu bagaimana caranya menyatakan perasaan sayangku kepadanya secara benar. Atau mungkin lebih tepatnya, "gengsi". Ya, gengsi. Aku dan keluarga cukup tertutup, entahlah, aku juga tak mengerti hal itu. Tapi andai mereka tahu, aku begitu sangat menyayangi mereka dan tak pernah melupakan mereka dalam doaku. Terutama juga Yoyon yang kini tengah berjuang untuk masa depannya, sama denganku yang masih menjejaki masa dewasa.
Yoyon itu... Hitam tapi manis. Cerdas tapi lomong. Bersih tapi suka kentut deket aku. Rajin mandi tapi kadang napasnya bau. Haha begitulah hidup. Tak selalu baik dan tidak ada orang yang sempurna, bukan? Tapi aku selalu berusaha untuk jadi lebih baik dari dia.
Yoyon kuliah di STKIP PGRI Sumenep jurusan Bahasa Inggris, jurusan yang sangat dia dan aku sukai. Lulusan Pare, sertifikat dan piagam bertebaran di mana-mana membuatku ngiler akan kecerdasan dan keaktifannya sebagai anggota organisasi kampusnya. Kalau tidak ada halangan, mungkin tahun 2013 ini dia wisuda.
Well, aku hanya bisa mendoakan semua yang terbaik darinya. Semoga masa depannya cerah seperti cerahnya matahari yang selalu menyinari bumi. Aku pun selalu berdoa, semoga Yoyon mendapatkan jodoh yang jauuuuh lebih baik dari Mbak Win. Karena menurutku Mbak Winlah yang terbaik untuknya. Tapi takdir berkata lain. Mbak Win belum cukup baik untuknya, entahlah aku tak mengerti kenapa begitu. Padahal Mbak Win itu... Ah, sudahlah. Menyakitkan membicarakan dia lagi. Ini hanya tentang Yoyon. Kakak lelakiku satu-satunya yang sangat aku cintai walaupun aku selalu memarahinya dengan sikap kekanak-kanakanku. Sungguh, aku tak pernah tahu bagaimana caranya bersikap sebagaimana mestinya seorang adik yang manis. Karena bagiku, hatikulah yang jujur berbicara dan menampakkan, bukan perbuatan yang kadang aku sendiri tidak tahu melakukannya. I love Yoyon, so much :-*
Yoyon itu kakak lelaki satu-satunya yang aku punya. Sangat beruntung mempunyai kakak laki-laki karena banyak sekali teman-temanku yang iri akan hal itu. Sedangkan aku, aku adalah adik yang pemarah, menyebalkan, dan egois. Ya, begitulah aku. Karena aku tak pernah tahu bagaimana caranya menyatakan perasaan sayangku kepadanya secara benar. Atau mungkin lebih tepatnya, "gengsi". Ya, gengsi. Aku dan keluarga cukup tertutup, entahlah, aku juga tak mengerti hal itu. Tapi andai mereka tahu, aku begitu sangat menyayangi mereka dan tak pernah melupakan mereka dalam doaku. Terutama juga Yoyon yang kini tengah berjuang untuk masa depannya, sama denganku yang masih menjejaki masa dewasa.
Yoyon itu... Hitam tapi manis. Cerdas tapi lomong. Bersih tapi suka kentut deket aku. Rajin mandi tapi kadang napasnya bau. Haha begitulah hidup. Tak selalu baik dan tidak ada orang yang sempurna, bukan? Tapi aku selalu berusaha untuk jadi lebih baik dari dia.
Yoyon kuliah di STKIP PGRI Sumenep jurusan Bahasa Inggris, jurusan yang sangat dia dan aku sukai. Lulusan Pare, sertifikat dan piagam bertebaran di mana-mana membuatku ngiler akan kecerdasan dan keaktifannya sebagai anggota organisasi kampusnya. Kalau tidak ada halangan, mungkin tahun 2013 ini dia wisuda.
Well, aku hanya bisa mendoakan semua yang terbaik darinya. Semoga masa depannya cerah seperti cerahnya matahari yang selalu menyinari bumi. Aku pun selalu berdoa, semoga Yoyon mendapatkan jodoh yang jauuuuh lebih baik dari Mbak Win. Karena menurutku Mbak Winlah yang terbaik untuknya. Tapi takdir berkata lain. Mbak Win belum cukup baik untuknya, entahlah aku tak mengerti kenapa begitu. Padahal Mbak Win itu... Ah, sudahlah. Menyakitkan membicarakan dia lagi. Ini hanya tentang Yoyon. Kakak lelakiku satu-satunya yang sangat aku cintai walaupun aku selalu memarahinya dengan sikap kekanak-kanakanku. Sungguh, aku tak pernah tahu bagaimana caranya bersikap sebagaimana mestinya seorang adik yang manis. Karena bagiku, hatikulah yang jujur berbicara dan menampakkan, bukan perbuatan yang kadang aku sendiri tidak tahu melakukannya. I love Yoyon, so much :-*
Comments
Post a Comment