Super Duper Menggila

Aku kangeeen banget sama blog-ku iniii. Hah! Akhirnya bisa nulis kembali setelah beberapa hari rehat. Oh iya, mengenai cerita sebelumnya, aku selamat. Lebih dari selamat malah. Secara nggak langsung, aku diselamatkan sama orang misterius, entahlah, aku tidak tahu itu siapa. Yang jelas, aku lebih dari selamat dan bisa bernapas lega. Lebih dari lega.

Oke, itu ending-nya. Sekarang, aku pengen nulis cerita tentang pengalaman dua hari di Surabaya tanpa orangtua, hanya bersama teman-teman seperjuangan, dan emang bener-bener berjuang. Tapi semua itu nggak akan pernah terlupakan sampai detik ini dan seterusnya. Karena.... Itulah pengalamanku pertama kalinya ke Surabaya tanpa orangtua, dan itu mengasyikkan, sangat!! Oke, kenapa aku bisa sampe sana? Mustahil banget kan rasanya? Yap, tapi mama ngizinin aku karena aku mau beli buku, serta aku bersama dengan orang-orang yang menurut mama baik dan bisa menjagaku. Jadinya, Sabtu pagi jam setengah 6 aku berangkat dengan Itriyah naik bis.

Jam setengah 10. Itulah perkiraanku sampai ke Surabaya. Tapi apa? Jam 12 aku baru sampai di sana. Macet, maceeet banget. Selama macet itulah kesabaranku diuji, benar-benar diuji. Matahari mulai meninggi, panas terasa sekali sampai ke ubun-ubun, please, aku nggak kuat sebegitu panasnya. Tapi, semua aktivitas orang di luar sana dan di dalam bis, tak pernah luput dari perhatianku. Aku dengan detail memerhatikan mereka dan aktivitasnya.

Pasar. Begitu sesaknya di dalam sana. Orang berdesak-desakan, mencoba mengadu nasib di tempat menggerahkan itu. Miris banget lihat mereka. Aku merasa bersyukur bisa seperti ini, hidup tenang dengan keluarga yang mencintai aku, tidak seperti di luar sana yang begitu rumitnya. Begitu kerasnya kehidupan, bukan? Anak-anak kecil yang harusnya sekolah, malah bertebaran di jalan, menjual apa pun yang bisa mereka jual, makan nasi bungkus bersama di pinggir jalan, 

Comments

Popular Posts