Kidung Sendu_14 November 2012
Bulan mulai memanjat malam
pelan-pelan. Terlihat gagah memamerkan sinar putihnya. Napas-napas angin
mendesir pada kidung sunyi. Benih-benih rindu mulai menguar di hatiku, karena
bulir-bulir cinta itu sulit kuhapus hingga ujung waktu.
Kini aku telah mendapatiku jatuh
terkapar, terjerembab, dan terhempas tak berdaya, kala lara semakin mekar
menembus waktu. Kutanya pada desir angin yang tak pernah berhenti berembus kala
panas dan dingin merayap di tubuhku, sampai kapan ku akan memeluk rindu? Namun
alam terlalu sunyi untuk kutanyakan, barang hanya sepatah kata.
Sayang..., senjaku merona berbeda. Tanpamu
riuh gemintang tak seindah dulu. Luapan rindu membelaiku malam ini. Menyulam mimpi
dengan ditemani kenangan yang terkemas manis. Di antara serpihan-serpihan
kelabu itu, aku menanti di ujung waktu yang semakin menghimpit. Aku berharap
pada temaram senja yang mulai mengabur. Aku bermimpi pada karang yang tak
setegar hatiku. Dan aku masih mengagumi pelangi yang kian memudar. Aku masih
seperti itu, pun langit telah runtuh bersama kepingan-kepingan hati yang
meluruh terbawa angin liar.
Terkadang penat terlampau erat
memelukku. Maka izinkan aku menyepi. Biar saja terpenjara dalam balutan luka
karena sepercik kilas. Tak mampu kubuat kandas perih yang kian merekat. Namun
ku tetap bersama dengan bintang kecil di atas sana yang mulai membidik.
Kutanggung rindu yang kian mengakar.
Pada syair, bunga, dan cakrawala. Walau tak setetes pun oase menyentuh pada
ladang gersang hatiku, namun cinta ini masih menggebu layaknya pelita di tubuh
malam. Binar cahaya di kedua matamu tak mampu kuredam bersama ego yang merajai.
Tetap luluh bahkan hanya dengan tatapmu berkata.
Tak apa. Itu semua tak apa. Senyumku
masih terlukis hingga derai perih menjelma ikhlas. Tentang kita, biar saja ada
dalam titah-Nya.
Comments
Post a Comment