Rindu dalam Sunyi_26 Oktober 2012
Kurasakan
minggu begitu jauh dariku. Malam sudah terlalu asing bagiku dengan mimpi-mimpi
kelam. Di ujung sunyi kugantungkan seberkas sinar yang memucat. Dalam pusaran
waktu aku tertunduk sejenak. Napasku tertahan di bebatuan, teringat akan
pelangi yang menggantung di kedua matamu, serta senyum yang menggulung di bibir
ranummu.
Kembali
langkah mengejar angin sepi. Menggapai sketsa wajahmu yang mulai mengabur dari
ingatan. Tak kudapat barang sebentar seperti kilat yang hinggap di tubuh malam.
Langit
di atas sana telah meneteskan awan senja. Sementara hati sibuk menata
kepingan-kepingan rasa yang terhujam belati. Tamparan angin menusuk-nusuk sudut
halus hatiku. Mengemas kenangan yang tak sanggup kujamah dengan hatiku yang
masih beku.
Asmara
pecah menjadi abu. Rindu basah menjadi embun. Tiba-tiba hatiku semakin sunyi,
karena senja tenggelam di matamu. Gemuruh dada kian meronta liar. Biarlah
mengombak dalam aliran darahku, membentur karang-karang kerinduan, lalu melumut
jadi doa...
Sumenep, 26
Oktober 2012
Comments
Post a Comment