Selasa Tenang

Ung, kini hariku jauuuuh lebih tenang sekarang. Tidak ada lagi orang-orang cerewet dan berteriak-teriak seperti kemarin lagi. Sekarang, aku lagi di perpustakaan kampus, Ung. Aku baru tahu ternyata perpustakaan Unija kini dibangun, jauh lebih luas dan rapi. Aku senang akhirnya tempat favoritku menjadi bagus.

Di sini tenang sekali, Ung. Jauh dari keramaian seperti kemarin. Di sini hanya ada aku dan petugas-petugas perpustakaan, dengan satu orang mahasiswa tak jauh dari tempatku duduk dan membaca buku. Aku tidak mengenalinya, Ung, tapi dia sedari tadi memerhatikanku terus. Sepertinya, aku harus mencari tempat di pojokan untuk bisa leluasa bergerak tanpa harus diperhatikan.

Ung, aku benar-benar suka suasananya. Suasana seperti ini menggodaku untuk menulis lagi, Ung. Dan buktinya, aku kembali menulis. Buku “Metode dan Teknik Menyusun Proposal Penelitian” terpaksa aku abaikan, Ung. Padahal, kakakku menyuruhku untuk segera mencari judul. Ah, kakakku itu memang kakak terbaik, Ung. Aku sangat menyayanginya melebihi diriku sendiri.

Rak buku sastra di mana ya, Ung? Sepertinya aku harus beradaptasi dengan perubahan perpustakaan yang baru ini. Tuh kan, lagi-lagi aku nyeleweng, aku masih belum move on dari sastra, padahal tuntutan dari dosen pembimbing dan kakakku untuk menggarap judul sudah menghantui hari-hariku. Tak apalah, selingan saja :D

Aku jadi ingin menyumbangkan novel karyaku di sini, Ung. Aku ingin mereka tahu bahwa nama perguruan tinggi mereka telah sedikit diketahui orang luar melalui karyaku yang belum seberapa. Aku janji, aku akan membawa nama kampusku dalam karya-karyaku selanjutnya. 

Kampus kita berbeda jauh, Ung. Bagai langit dan bumi, bahkan kampusku jauh di dasar bumi. Tapi aku tidak mau kalah. Aku tidak mau minder bersekolah di sini. Aku harus berprestasi, walaupun bukan debat ilmiah se-nasional, tapi aku harus berprestasi sekecil apa pun melalui tulisan. Walau prestasiku tak seberapa dibanding prestasimu, Ung, tapi satu hal, Ung: hidup harus tetap berguna :)

Eh, Ung, barusan ada seorang perempuan berpenampilan laki-laki, dengan potongan rambut seperti laki-laki. Sekilas, orang-orang pasti mengiranya dia adalah laki-laki, tapi coba perhatikan lagi, dia adalah perempuan, Ung! Ya Tuhan ... aku jadi ingat tentang .... Kamu masih ingat, kan ceritaku di telepon waktu itu? Hahaha aku jadi ingin tertawa, Ung. Aku tidak peduli orang-orang memerhatikanku karena senyum-senyum sendiri dari tadi. Dunia sudah gila, Ung! Akankah sebentar lagi aku juga akan memangkas rambutku dan menyukai perempuan? Dunia ini EDAN! Hahahaha...

Perpus Unija, 10 Feb 2015
Naa~

Comments

Popular Posts