Senin yang Menyebalkan

Ung, aku lagi di keramaian sekarang. Kampus begitu sibuk senin pagi ini. Aku tidak suka keramaian. Aku tidak suka hingar bingar keramaian dengan bermacam-macam orang yang berlalu lalang di depanku. Parkir penuh, fakultas penuh, LAB penuh, semuanya berisi kegaduhan. Semuanya berbicara, berteriak, mengeluh, dan semua itu menyatu memekakakkan telingaku.

Ponselku berbunyi terus, teman-teman silih berganti menelepon dan bertanya tentang cara KRS-an yang baru, serta bertanya mata kuliah apa yang akan diambil. Padahal, Ung, aku telah memberitahukannya jauh-jauh hari kepada mereka. Sebagian lagi bertanya tentang keberadaanku, dan semua itu tak ada hentinya sampai jam setengah satu siang. Belum lagi SMS dan BBM dari teman-teman tentang acara nanti sore juga memenuhi inbox-ku. Aku dongkol setengah mati meladeni pertanyaan-pertanyaan mereka, Ung. Mereka bertanya dengan pertanyaan yang sama.

Luhung, TAK BISAKAH MEREKA BERHENTI BERTANYA?

Tapi aku merasa sangat berdosa kalau mematikan ponselku, tidak ada pilihan lain, Ung. Aku harus menahan sabar. Sesiang ini, KRSanku belum juga selesai, Ung. Banyak teman-teman yang menelepon meminta bantuanku tadi. Aku harus bolak-balik kampus-sumenep untuk mengatasi pertanyaan-pertanyaan mereka. Banyak yang belum mengerti tentang proses KRSan yang baru. Kenapa Seninku penuh dengan orang-orang yang cerewet?

12:41 WIB. Aku berada di LAB komputer, Ung. Di sini, kita bisa mengaktifkan KRS tetap dan bisa dicetak. Lagi-lagi, aku merasakan pengap yang luar biasa. Terlalu banyak orang di ruangan ini, Ung. Banyak mahasiswa-mahasiswa manja yang menghabiskan waktunya di sini hanya untuk bertanya masalah yang tidak penting. Aku memerhatikan mereka satu per satu. Tidak bisakah mereka diam? Tidak bisakah mereka tidak banyak tanya? Kenapa harus di LAB untuk mengaktifkan KRS tetap? Kenapa tidak di warnet atau di rumah saja? Kenapa harus di LAB??

Aku memerhatikan salah satu temanku yang melakukan KRS tetap. Di sampingnya, ada petugas LAB yang membimbing. Tiba-tiba, aku mencium bau rokok yang menyengat. Sontak aku langsung menutup hidung dengan kerudungku sembari menoleh ke arah sekeliling untuk melihat siapa yang sedang merokok. Aku tak menemukan apa pun karena begitu ramainya di sini.

"Siapa sih yang ngerokok? Yang bener aja ngerokok di ruangan AC begini!!" gerutuku sembari tetap melihat sekeliling.

Semakin lama, asap rokok semakin menyengat hidungku. Aku benar-benar tak tahan dengan aromanya.

"Woyy siapa yang ngerokok di sini? Please, ini ruangan ber-AC!!!" pekikku nyaring.

Aku benar-benar emosi, namun suaraku tertelan begitu saja dari saking ramainya. Aku akhirnya memilih duduk tepat di bawah AC. Aku ingin ketenangan sedikiiit saja, tapi aku tak mendapatkan apa-apa. Salah satu temanku mendatangiku. Ia tergopoh-gopoh memberitahuku sesuatu.

"Na, Na!! Yang ngerokok itu tadi petugas LAB! Kamu kok malah teriak-teriak gitu?!" Aku hanya tersenyum kecut. "Dari tadi dia liatin kamu," tambahnya lagi.

"Lah, terus? Biarin aja aku nggak takut, harusnya dia tahu nempatin diri dong!! Mending kerja di pasar aja kalo mau rokok sembarangan!" ketusku. Temanku hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dasar preman!" Ia tersenyum kemudian pergi.

Aku lega bukan main karena temanku sudah pergi. Sesaat, aku tersenyum sendiri karena kata-kata temanku barusan yang menyebutku preman, mungkin karena sikapku yang acuh dan selalu blak-blakan kalau berbicara. Aku menghembuskan napas perlahan untuk menenangkan diri sendiri. Selang beberapa menit, temanku yang lain datang dengan perasaan girang dan tertawa ngakak menghampiriku. Aku benar-benar merasa terganggu dengan kehebohannya. Dia duduk di sebelahku dan bertanya apa pun kepadaku. Dia mengajakku bergossip dan mencoba menghiburku dengan candaannya yang tidak penting. Tidakkah dia tahu aku sedang badmood?

Keramaian masih belum juga berhenti. Mahasiswa lain berdatangan dengan gaya mereka yang sok dan manja. Apakah mereka tidak bisa bersikap biasa-biasa saja? Diam lalu setorkan lembarannya? Lalu menunggu tanpa banyak bicara sepertiku. Tidak bisakah?

*** 

3:16 PM. Aku sudah di rumah dengan sepiring makanan dan wewangian khas bayi. Ya. Aku sudah mandi dan solat Ashar, Ung. Aku sudah tiba di rumah tepat jam setengah tiga sore. Bagaimana dengan kamu, anak mesin? Kuharap kamu sudah makan dan tidak kehujanan di jalan. Untuk urusan solat, aku percaya kamu tidak akan pernah melupakan hal itu :) Di sini hujan, Ung. Acara renuian dengan teman-teman SMP terpaksa ditunda,atau bahkan batal? Ah, jangan deh, aku butuh mereka di hari-hariku yang mulai menyebalkan. And ... I need you too, Ung, hehe :D

Kamar berantakan, 9 Feb 2015
Naa~ 

Comments

Popular Posts