Riuh Rindu_26 Oktober 2013



            Senja berlalu pergi seperti biasa. Jingga tak lagi bersahabat se-syahdu dulu ketika tawamu masih akrab di telinga. Sore ini, hanya terlihat lambaian ilalang mengusik siluet bayangmu yang kautumpahkan ke seluruh pikiranku. Namun seketika ia berlalu. Malam kini beranjak datang merambah alam. Sinar rembulan membanjiri bumi dengan sendu. Gemintang memayungi bumi tampak redup. Kusadari senyummu telah hilang di sekian malam, tergantikan malam yang suram di rumah yang mulai memeluk sunyi. Riuh rindu yang mulai gaduh berceloteh di langit malam, menyanyikan sederet namamu yang berada jauh di seberang sana. 

Di sudut-sudut ruang minimalis itu masih lekat kenangan tentang kita yang saling melempar debat tak berujung. Terkadang dengus sebal yang kerap kudengar hanya kauulas dengan senyummu yang menenangkan, nasihatmu yang tegas, dan tatapmu yang membuatku nyaman. Kini hanya bisa kutatap jendela kusam di balik kamarmu yang hening. Tak peduli betapa gaduhnya di luar sana dengan beragam suasana, aku tetaplah sebingkai nestapa yang dipasung kerinduan yang meraja. Detik dan menit tak pernah selambat ini semenjak jejakmu hanya bersisa debu. Semua terasa tak bernyawa teruntuk semangatku yang telah layu. 

Kita berada di bawah langit yang sama, sementara di dalam tubuh kita mengalir darah yang sama, tapi tak ada yang bisa kuperbuat selain hanyut dalam dekap doa dan airmata. Rengekan yang menjadi-jadi tak kunjung terwujud oleh pertemuan, hanya janji-janji maya yang akrab memekakkan telingaku saja. Aku benar-benar benci hari-hariku setelah kepergianmu. Aku benci melakukan semuanya sendiri, bahkan aku benci saat adegan lucu di televisi itu harus terjadi tanpa adanya dirimu di sampingku. 

Telah kuperbincangkan pada malam bahwa hariku kian kelabu, namun malam tak jua mendekapku walau kemilau bintang di atas sana memujanya. Isak tangis bulan yang menderaku membuatku semakin hanyut di bawah atap yang sudah tak bernyawa ini. Selalu harapku membuncah saat kubuka kedua mata ini, namun harapan itu kembali harus kutepikan bersama waktu yang enggan tersenyum.

Aksara yang terangkai untuk rindu ini t’lah berganti katastrofe yang semakin erat merangkulku. Kusadari semua ini tak akan mudah kujalani. Namun, ragamu yang jauh tak bisa hilangkan semangatmu yang masih terpatri di hati semua insan. Walau aku menantimu dengan beribu kesenduan, tapi semangatmu masih menyelimuti hidupku yang tak lagi sama. 

Sumenep, 26 Oktober 2013

Comments

Popular Posts