12 Februari 2015



Ung, malam ini pikiranku terganggu lagi. Sesuatu yang sudah lama kucoba untuk pendam dan tidak ingin aku ingat lagi, kini menghantuiku. Ung, kenapa aku bisa masuk FISIP? Kenapa aku tidak masuk sastra saja, Ung? Kenapa aku tidak memperjuangkan apa yang menjadi kesukaanku? Kenapa aku tidak seperti kamu yang masuk kuliah sesuai dengan kemampuan dan kesukaanmu? Kenapa aku bisa ada di sini, Ung, dengan segelut mata kuliah berat yang membuatku muak? Tentang politik, filsafat, birokrasi, pembangunan, anggaran, dan segala seluk beluk dunia pemerintahan yang penuh manipulasi dan kebusukan. Kenapa aku bisa ada di dalamnya, Ung? Kenapa aku tidak bergelut dengan tugas menganalisa novel, mempelajari linguistik, sintaksis, morfologi, fonologi, dll? Aku juga bisa, kan, mengangkat judul skripsiku nanti, ehm … misalnya “kritik sosial dalam menganalisa novel-novel Harry Potter karya J.K Rowling”, kan? Aku langsung punya gambaran, Ung, beda dengan jurusanku saat ini. Sudah kucoba mencari referensi, tapi tetap saja, judul proposal yang diminta dosen belum juga terbayang. Segoblok inikah aku, Ung? Haha, mungkin memang iya, Ung. Aku payah. Aku tidak berguna!! Wkwk!

Aku bukan tipe orang yang suka menyerah. Aku hanya belum biasa. Hebat sekali, tiga tahun berkuliah masih juga belum terbiasa! Sastra selalu menghantuiku ketika aku mulai berhadapan dengan aroma-aroma politik. Tapi tenang saja, aku harus bisa memposisikan diri. Aku harus tahu diri. Aku anak mama dan bapak, dan mereka telah susah payah membiayaiku sampai saat ini. Aku harus tegas dalam pilihanku sendiri. Inilah hidupku sekarang, Ung, aku harus selalu lapang menerimanya. Setiap aku lelah, aku berkaca pada kakak semata wayangku, Ung. Dia menyukai Bahasa Inggris. Sepertinya kami berdua memang terlahir pada dunia kebahasaan. Tapi, Ung, kakakku meneruskan S2-nya juga menyimpang dari passion-nya, sama sepertiku. Tapi dia menjalaninya tanpa kudengar mengeluh sedikit pun. Aku sampai menangis saat dia membuat status “Selamat tinggal Bahasa Inggris, semua tidak ada yang sia-sia”. Aku memang mudah menangis kalau mengenai kakakku itu, Ung. Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, aku sangat menyayanginya. Aku tahu dia tidak suka dengan jurusan barunya, Ung, tapi dia tetap semangat dan tersenyum saat dia mengerjakan tugas dan harus kembali ke Surabaya untuk kembali bersekolah. Aku harus bisa seperti dia, bahkan melebihi dia. Dialah motivator sejatiku, Ung! Dialah kakakku, Fajar Budiyono :’)
Depan tv, 12 Feb 2015
Naa~

Comments

Popular Posts