Kau Enggan Datang
Hai, bagaimana kabarmu di sana? Tak terasa, sudah seminggu kita
berjalan sendiri-sendiri seperti ini. Dan sejak malam itu, aku merasa
semakin hari kita semakin jauh walau wajahmu masih menghiasi hariku.
Benar, kita masih saling menyapa, tapi tidak lagi kurasa getaran darimu
yang terpancar seperti dulu lagi. Sesaatkah aku bagimu? Bagi cintamu?
Ah, tak mengapa. Aku di sini sudah terbiasa dicumbu sepi. Bahkan ketika
kamu mau mencaci makiku sekalipun, menepikan namaku untuk selamanya,
tak apa, tapi ... kedua tanganku masih terbentang lebar, hatiku tetap
seluas langit untuk menghiasi namamu. Di sini. Di hati kecilku yang
masih dan selalu untukmu.
Malam ini, kau tak lagi datang, tepat seperti dugaanku. Bahkan siluet
bayangmu pun tak mau muncul di pikiranku. Kau enggan datang, aku tahu
itu. Aku hanya bisa bersuara melalui surat kecil ini, surat yang tak
akan pernah sampai kepadamu, dan surat yang hanya akan diterbangkan
bisik angin malam yang memeluk hening.
Kau tahu? Saat ini aku sudah bisa tersenyum. Semua orang bisa rasakan
itu. Tapi mereka belum tahu, atau bahkan tak pernah tahu arti di balik
senyumku ini. Lupakan! Itu tak penting. Aku ingin sekali bercerita bahwa
semalam, kauhadir lagi di mimpiku yang tak pernah jelas. Kaudatang
membawa senyum yang paliiiing indah yang pernah kulihat. Setelah itu,
kaupergi lagi. Tapi terimakasih loh sudah mau hadir! Aku selalu menunggu
saat malam tiba, saat mataku terkantuk, dan mulai tertidur lelap.
Karena di situlah aku bisa temukan dirimu yang dulu.
Dulu ... ponsel tak pernah lepas dari genggamanku. Karena tiap saat aku
akan mengetahui kabarmu di sana. Tapi kini ... benda itu membuatku
malas untuk memegangnya lagi. Bahkan tak jarang aku sering telat
membalas pesan teman-temanku yang masuk. Kau tahu mengapa? Karena aku
tahu, dirimu tak akan datang sesering dulu. Namun walau begitu, namamu
di kontakku tak pernah kuubah, wallpaper di ponselku tak pernah kuganti,
dan pesanmu dulu tak pernah kuhapus.
Kalau boleh jujur, aku hampir putus asa dan ingin menghapus semua
pesanmu yang masih memenuhi kotak masukku. Tapi hati kecilku selalu
membisikkan kata “jangan” kepadaku. Karena jika itu terjadi, maka aku
tak pernah bisa lagi mengenangmu di hidup kita yang tak sejalan lagi.
Kautahu? Kenanganlah yang membuat aku hidup.
Hei, jangan murung membaca surat ini. Sudahlah. Di sini aku tak
mengapa. Percayalah! Lanjutkan hidupmu, tak usah memikirkan aku yang
hanya butiran debu. Aku hanya ingin berterimakasih banyak kepadamu,
karena dirimulah semangatku selalu menggebu, mataku selalu berbinar, dan
senyumku semakin cerah. Betapa hebatnya hadirmu yang telah membuat
hidupku lebih bermakna. Terimakasih untukmu yang tak akan pernah bisa
kusentuh lagi, tapi selalu bisa kudoakan dan kucintai.
Selamat malam ... semoga tidurmu lelap. Aku janji tak akan mengusik
mimpi indahmu dengan hadirnya aku. Aku merindukanmu ~
#Naa, 8 Feb 2014
Comments
Post a Comment