VII
Ji ... Sudah berapa malam langit seperti ini? Aku rindu bintang, Ji. Aku juga rindu bulan. Merekalah temanku kala sepi. Tapi mereka tak tampak, Ji, mendung menutupinya. Sama sepertimu, tak tampak tapi selalu ada.
Seharian ini aku bersama mereka, Ji, ragaku bersenang-senang di sini, tapi kenapa hatiku masih tertinggal di sana, Ji? Aku benci harus pergi, tapi tak ada pilihan lagi selain pergi darinya dan mengubur dalam-dalam rasa yang terlanjur besar ini. Aku benci mengatakannya, Ji, tapi aku masih sayang dia :'(
Perutku sakit, Ji, sakit sekali! Perih sekali seperti ditusuk-tusuk jarum tajam. Tapi aku hanya diam, Ji. Aku menetralkan rasanya tanpa bercerita pada mereka yang sedang tersenyum.
Ji ... Sepi semakin menggelayutiku. Aku tergoda untuk membalas smsnya semalam. Setan merayuku untuk menghubunginya lagi. Aku bingung, Ji. Sakit pula karena aku dilanda rindu. Aku ingin berteriak menghilangkan rasanya, tapi aku tak kuasa. Lagi-lagi aku hanya diam. Dan akhirnya kau pun datang. SMSmu seolah menyentakku dan meneriakkan kata JANGAN! Kehadiranmu mengurungkan niatku untuk menghubunginya, Ji. Aku selalu ingat dengan kata-katamu, ''Aku ingin pergi jauh tapi hatiku ga bisa''. Kau pasti lupa pernah bilang begitu, tapi aku selalu ingat. Hatiku berantakan, Ji, berserakan, tak tahu kapan menyatu, tak tahu kapan bisa kembali.
Aku ingin kamu di sini, Ji. Menikmati angin malam yang menyapa tubuhku, saling berbagi kisah dan bercanda dengan ombak. Aku di pinggir kapal, Ji, aku sudah berani melihat ke bawah. Aku tidak ngeri lagi, Ji. Tapi entah kenapa dadaku sesak, Ji. Aku ingin kapal ini membawaku pergi jauh hingga kabut melenyapkannya ...
Comments
Post a Comment