Ketika Kesakitan Membuatku lebih Hidup
Ada orang yang mengatakan, “Tuhan memberi kita hidup, kita yang
menjalani, dan orang lain yang mengomentari”. Aku suka pernyataan itu.
Banyak sekali yang sudah terjadi di dalam hidupku. Tuhan memberiku
bermacam warna untuk menemani hidupku. Tak banyak yang mengenalku secara
dalam kecuali orang-orang terdekatku yang kupercaya. Tak sedikit pula
yang mengenalku hanya berdasar cerita orang, sehingga mereka tak tahu
bagaimana aku yang sebenarnya.
Tak semua orang tahu, dulunya, aku penggila warna pink. Segala barang-barang di kamarku hampir semuanya berwarna pink. Aku sangat mencintai warna itu. Terlebih ketika hari valentine tiba. Semua pernak-pernik yang berwarna pink membuat mataku berbinar-binar. Warna yang terkesan “cewek banget” itu kugilai hingga usiaku memasuki 16 tahun. Lewat dari itu, tak ada lagi warna pink dalam hidupku. Semua hilang, lenyap, karena sebuah hal: kehilangan.
Ya. Kehilangan. Tuhan memberiku sebuah rasa yang tak pernah aku kenal sebelumnya. Kehilangan itu seolah merampas sebagian dari hidupku. Aku kehilangan arah pada saat itu. Semua yang indah hanya tinggal cerita. Betapa hebatnya rasa itu hingga kecintaanku pada warna pink hilang total!! Aku pun membenci warna itu. Aku mulai memberontak.
Sejak itu, aku mulai menyukai musik keras, musik rock. Teriakan hatiku terasa hidup dalam lirik dan nada di semua lagu rock itu. Aku sudah tak mengenal lagi kelembutan. Aku tak suka memakai rok, memakai bando, dan memakai segala pernak-pernik yang “cewe banget”. Aku juga mulai mencoba untuk memainkan gitar. Aku tak pernah peduli pada jari-jariku yang sudah lecet karenanya. Sekali lagi, aku tak lagi mengenal kelembutan.
Dari dulu, aku tak pernah pandai berpenampilan, karena aku pun tak pernah peduli. Hidupku benar-benar berubah sejak Tuhan menghadirkanku rasa sakit itu. Aku mulai belajar berdiri, berjalan, dan berlari sendiri. Semua yang datang hanyalah sementara bagiku. Semua yang datang hanya membantuku bangkit dan menghempaskan aku lagi ke tanah. Terus seperti itu hingga aku mengerti arti sebuah hidup.
Aku mulai mengerti arti kesabaran, pengorbanan, dan keikhlasan. Aku mengerti tentang semua itu. Aku menjalani semua itu dengan seluruh hati yang aku punya. Hati yang sudah ternoda, tersakiti, dan terabaikan itu terus menguatkan aku. Dikecewakan, disakiti, ditinggalkan, diabaikan, diduakan, dipermainkan, dihina, tak diinginkan, bahkan segala rasa sakit itu sudah aku alami sejak dulu. Mereka adalah makanan bagiku. Belum sampai lukaku mengering, datang lagi sebuah luka yang menyayat hatiku.
Perih. Pedih. Hingga aku tak dapat berkata apa pun lagi tentang rasanya. Tapi aku bersyukur, Tuhan memberiku anugerah terindah yang dimulai dari kesakitan. Ini bukan tentang kisah yang mengundang belas kasihan orang. Tidak!! Ini hanya sepenggal kisah yang tidak ada apa-apanya. Aku sangat berterima kasih kepada orang-orang yang telah mewarnai hidupku, tapi mereka ambil lagi warna itu, aku sangat beruntung bertemu dengan mereka. Melalui pengalaman inilah aku belajar tentang hidup, tentang kedewasaan, tentang cara mencintai yang tidak ada batasnya.
Hampir semua orang memilih untuk dicintai daripada mencintai. Sadarkah kalian bahwa mencintai itu indah? Tidak semua orang yang mencintai itu beruntung. Tapi di situlah letak keindahannya. Semua arti hidup ditemukan di sana. Saat kita terbuang, saat cinta kita bertepuk sebelah tangan, saat orang yang kita cintai mencintai orang lain, saat orang mengabaikan cinta kita, dan saat-saat terpuruk sekalipun! Memang, semua kembali pada pribadi masing-masing. Tak semua bisa rasakan hal itu. Tak semua mau mencintai lagi karena hal-hal itu.
Cinta itu bukan untuk dibenci, tapi cinta itu merupakan suatu pembelajaran hidup. Aku hidup karena cinta, tapi sakit pula karena cinta. Jadilah orang yang kuat, walaupun logika sering kali kalah dengan perasaan, walaupun dia yang kita cintai telah pergi, dan walaupun hidup kita tak seindah dulu. Jalanku masih panjang, masih terjal, dan aku harus mempunyai hati yang kuat untuk melewati itu semua, karena hidup tak semanis yang kita bayangkan, juga tak sepahit yang kita jalani. Tetaplah tersenyum walau hati menangis, yakinkan orang lain bahwa kita tidak apa-apa, bukan berbohong, tapi indahkanlah dunia mereka untuk terus menghiasi senyum kita :-)
Tak semua orang tahu, dulunya, aku penggila warna pink. Segala barang-barang di kamarku hampir semuanya berwarna pink. Aku sangat mencintai warna itu. Terlebih ketika hari valentine tiba. Semua pernak-pernik yang berwarna pink membuat mataku berbinar-binar. Warna yang terkesan “cewek banget” itu kugilai hingga usiaku memasuki 16 tahun. Lewat dari itu, tak ada lagi warna pink dalam hidupku. Semua hilang, lenyap, karena sebuah hal: kehilangan.
Ya. Kehilangan. Tuhan memberiku sebuah rasa yang tak pernah aku kenal sebelumnya. Kehilangan itu seolah merampas sebagian dari hidupku. Aku kehilangan arah pada saat itu. Semua yang indah hanya tinggal cerita. Betapa hebatnya rasa itu hingga kecintaanku pada warna pink hilang total!! Aku pun membenci warna itu. Aku mulai memberontak.
Sejak itu, aku mulai menyukai musik keras, musik rock. Teriakan hatiku terasa hidup dalam lirik dan nada di semua lagu rock itu. Aku sudah tak mengenal lagi kelembutan. Aku tak suka memakai rok, memakai bando, dan memakai segala pernak-pernik yang “cewe banget”. Aku juga mulai mencoba untuk memainkan gitar. Aku tak pernah peduli pada jari-jariku yang sudah lecet karenanya. Sekali lagi, aku tak lagi mengenal kelembutan.
Dari dulu, aku tak pernah pandai berpenampilan, karena aku pun tak pernah peduli. Hidupku benar-benar berubah sejak Tuhan menghadirkanku rasa sakit itu. Aku mulai belajar berdiri, berjalan, dan berlari sendiri. Semua yang datang hanyalah sementara bagiku. Semua yang datang hanya membantuku bangkit dan menghempaskan aku lagi ke tanah. Terus seperti itu hingga aku mengerti arti sebuah hidup.
Aku mulai mengerti arti kesabaran, pengorbanan, dan keikhlasan. Aku mengerti tentang semua itu. Aku menjalani semua itu dengan seluruh hati yang aku punya. Hati yang sudah ternoda, tersakiti, dan terabaikan itu terus menguatkan aku. Dikecewakan, disakiti, ditinggalkan, diabaikan, diduakan, dipermainkan, dihina, tak diinginkan, bahkan segala rasa sakit itu sudah aku alami sejak dulu. Mereka adalah makanan bagiku. Belum sampai lukaku mengering, datang lagi sebuah luka yang menyayat hatiku.
Perih. Pedih. Hingga aku tak dapat berkata apa pun lagi tentang rasanya. Tapi aku bersyukur, Tuhan memberiku anugerah terindah yang dimulai dari kesakitan. Ini bukan tentang kisah yang mengundang belas kasihan orang. Tidak!! Ini hanya sepenggal kisah yang tidak ada apa-apanya. Aku sangat berterima kasih kepada orang-orang yang telah mewarnai hidupku, tapi mereka ambil lagi warna itu, aku sangat beruntung bertemu dengan mereka. Melalui pengalaman inilah aku belajar tentang hidup, tentang kedewasaan, tentang cara mencintai yang tidak ada batasnya.
Hampir semua orang memilih untuk dicintai daripada mencintai. Sadarkah kalian bahwa mencintai itu indah? Tidak semua orang yang mencintai itu beruntung. Tapi di situlah letak keindahannya. Semua arti hidup ditemukan di sana. Saat kita terbuang, saat cinta kita bertepuk sebelah tangan, saat orang yang kita cintai mencintai orang lain, saat orang mengabaikan cinta kita, dan saat-saat terpuruk sekalipun! Memang, semua kembali pada pribadi masing-masing. Tak semua bisa rasakan hal itu. Tak semua mau mencintai lagi karena hal-hal itu.
Cinta itu bukan untuk dibenci, tapi cinta itu merupakan suatu pembelajaran hidup. Aku hidup karena cinta, tapi sakit pula karena cinta. Jadilah orang yang kuat, walaupun logika sering kali kalah dengan perasaan, walaupun dia yang kita cintai telah pergi, dan walaupun hidup kita tak seindah dulu. Jalanku masih panjang, masih terjal, dan aku harus mempunyai hati yang kuat untuk melewati itu semua, karena hidup tak semanis yang kita bayangkan, juga tak sepahit yang kita jalani. Tetaplah tersenyum walau hati menangis, yakinkan orang lain bahwa kita tidak apa-apa, bukan berbohong, tapi indahkanlah dunia mereka untuk terus menghiasi senyum kita :-)
Comments
Post a Comment