IV

Hujan tak kunjung reda, Ji. Malam ini dingin, tapi aku malah minum susu yang kusimpan di kulkas. Susu yang pernah kamu beri untukku waktu itu, Ji. Kamu memberikan susu itu kepadaku padahal kamu sedang sakit. Lalu kemudian bisik-bisik dari temen-teman mulai menggema. Sudah berita basi kalau semua teman kita menyangka kita pacaran. Apalagi aku sangat ingat saat kamu mengusiliku dengan menyembunyikan ponselku, lalu setelah itu kamu memberikan aku cokelat, dan semua teman-teman bersorak riuh. Aku rindu masa-masa itu, Ji. Masa yang tak akan pernah tergantikan dan terulang lagi.

Kita selalu bersama, Ji. Aku juga masih ingat ketika dulu kita mengerjakan tugas bersama sampai malam. Kita sama-sama tidak peduli dengan wajah kusam dan bau asam kita. Kita lelah sekali waktu itu, tugas yang kita kerjakan pun asal-asalan, bahkan punyaku salah total, tapi kamu mau menungguku dan menyelesaikannya bersama, karena katamu kita harus selalu bersama.

Ji ... maaf aku tak bisa habiskan makananku, tapi aku sudah kenyang, Ji. Tak adil rasanya kalau aku di sini makan enak, tidur nyaman, tapi kamu di sana hanya makan separuh durian dan tidur tak jelas di mana. Aku benar-benar sakit kamu seperti ini, Ji. Ketika aku bertanya kamu sedang apa, kamu bilang sedang memikirkan aku. Lihat, Ji? Aku hanya menambah bebanmu dengan kecengenganku, kan? Aku hanya merepotkanmu, Ji, tapi kamu tak pernah meninggalkanku sedikit pun :'( :')

Comments

Popular Posts