Sepenggal Bayang
Engkau masih yang terindah ... Indah di dalam hatiku
Mengapa kisah kita berakhir yang seperti ini ...
Hampa kini yang kurasa ... menangis pun ku tak mampu
Hanya sisa kenangan terindah dan kesedihanku
Lagu itu terus kuputar hingga memenuhi rongga kepalaku. Aku membiarkan lagu itu terus berputar walau membuat dadaku semakin sesak. Tapi aku hanya tersenyum, tersenyum walau tetes demi tetes airmata yang kutahan akhirnya jatuh juga. Lagu itu benar-benar sangat mewakili perasaanku saat ini. Dia datang begitu cepat, singgah di hati sementara, tapi kepergiannya membekas sangat lama. Dia terbangkan aku setinggi mungkin, tapi dia jatuhkan aku begitu saja. Bagiku, semua terjadi hanya sekejap mata, harusnya aku bisa mengatasinya, tapi luka ini belum juga mengering.
Aku selalu berusaha untuk tersenyum walau dadaku sesak. Aku selalu mencari cara agar aku tak kesepian, tapi malam selalu mencipta hal itu. Aku juga selalu berusaha melakukan apa pun sendiri, tanpa dia lagi, namun, semakin aku mencobanya, dia semakin terasa dekat denganku.
Kusadari hidupku tak seperti dulu lagi. Semuanya kosong. Aku tak merasakan getaran apa pun walau Mama membelikanku cokelat, walau acara di televisi sangatlah lucu, ataupun kakakku bertingkah menyebalkan sekalipun. Aku tak merasakan hal apa pun ketika semua itu terjadi. Aku membiarkannya begitu saja seperti angin lewat. Rasaku mati. Semuanya NOL. Hampa. Hambar.
Namun ... Tuhan masih berbaik hati padaku. Tuhan selalu hadirkan dia dalam mimpiku, setiap malam! Aku senang melihatnya tersenyum padaku, menemaniku, dan kembali seperti semestinya. Aku bahagia. Duniaku telah kembali lagi. Tapi lagi-lagi itu hanya sementara. Pagi menyeret mimpi itu untuk berhenti berputar di alam bawah sadarku. Aku terbangun dengan perasaan yang sama. Hambar. Berjalan tak di atas tak di bawah, tanpa naungan tanpa pijakan.
Semua hitam. Semua yang kulihat hitam. Tak setitik pun warna yang kutemukan dalam duniaku sekarang. Dan sejak saat itu, aku menyukai warna hitam, karena warna itu yang kini hadir memeluk duniaku, dan membekukannya.
Aku merindukannya, tapi aku hanya bisa melihatnya di dalam mimpi. Aku hanya bisa menyentuh dan tertawa dengannya di dalam mimpi. Aku mulai menyukai dunia mimpi. Dunia yang tak akan pernah nyata. Ya. Tak apa. Biarlah aku hidup di dalam mimpi, karena di sanalah aku bisa tersenyum lepas, bukan terpaksa.
Seorang sahabat berkata, “Fatamorgana itu akan menjadi nyata bila kamu yakin.” Dan sejak saat itu, aku sudah memantapkan hati untuk memulai kisah baru dengan orang baru yang aku cintai. Tapi nyatanya apa? Seberapa pun yakinnya aku, fatamorgana tetaplah fatamorgana. Ia hanya bisa dilihat tanpa bisa digapai, apalagi digenggam, dan tak akan pernah menjadi nyata.
Aku sadar, sekuat apa pun aku menunggu, dia tak akan pernah kembali, dia tidak akan datang, dan dia juga bukan dia yang dulu. Aku sadari itu. Aku ingin sekali pergi, sesuai apa maunya, tapi hatiku tetap tertinggal di sana, di hatinya yang tak lagi kumiliki. Mungkin banyak yang lebih baik dari dia, tapi yang seperti dia tidak akan pernah ada. Cukuplah aku saja yang mencintainya di balik bayang yang tak akan pernah bisa ia lihat dan sentuh lagi. Biarlah aku menjadi bayang yang hidup hanya dalam angan.
Aku tak tahu sampai kapan semua ini akan bermuara. Aku tersesat, aku tak bisa melihat apa pun di depan sana. Hatiku berantakan, pikiranku kacau. Tapi aku tetap berjalan, dalam kekosongan, dalam kehampaan, dan dalam dunia yang semu. Kuterima itu. Ini sudah menjadi bagianku. Bagian sang perasa dan penikmat hidup yang tak akan berhenti mencintai. Karena yang setia, tak perlu diminta untuk menunggu :-)
Naa, 4 Februari 2014
Mengapa kisah kita berakhir yang seperti ini ...
Hampa kini yang kurasa ... menangis pun ku tak mampu
Hanya sisa kenangan terindah dan kesedihanku
Lagu itu terus kuputar hingga memenuhi rongga kepalaku. Aku membiarkan lagu itu terus berputar walau membuat dadaku semakin sesak. Tapi aku hanya tersenyum, tersenyum walau tetes demi tetes airmata yang kutahan akhirnya jatuh juga. Lagu itu benar-benar sangat mewakili perasaanku saat ini. Dia datang begitu cepat, singgah di hati sementara, tapi kepergiannya membekas sangat lama. Dia terbangkan aku setinggi mungkin, tapi dia jatuhkan aku begitu saja. Bagiku, semua terjadi hanya sekejap mata, harusnya aku bisa mengatasinya, tapi luka ini belum juga mengering.
Aku selalu berusaha untuk tersenyum walau dadaku sesak. Aku selalu mencari cara agar aku tak kesepian, tapi malam selalu mencipta hal itu. Aku juga selalu berusaha melakukan apa pun sendiri, tanpa dia lagi, namun, semakin aku mencobanya, dia semakin terasa dekat denganku.
Kusadari hidupku tak seperti dulu lagi. Semuanya kosong. Aku tak merasakan getaran apa pun walau Mama membelikanku cokelat, walau acara di televisi sangatlah lucu, ataupun kakakku bertingkah menyebalkan sekalipun. Aku tak merasakan hal apa pun ketika semua itu terjadi. Aku membiarkannya begitu saja seperti angin lewat. Rasaku mati. Semuanya NOL. Hampa. Hambar.
Namun ... Tuhan masih berbaik hati padaku. Tuhan selalu hadirkan dia dalam mimpiku, setiap malam! Aku senang melihatnya tersenyum padaku, menemaniku, dan kembali seperti semestinya. Aku bahagia. Duniaku telah kembali lagi. Tapi lagi-lagi itu hanya sementara. Pagi menyeret mimpi itu untuk berhenti berputar di alam bawah sadarku. Aku terbangun dengan perasaan yang sama. Hambar. Berjalan tak di atas tak di bawah, tanpa naungan tanpa pijakan.
Semua hitam. Semua yang kulihat hitam. Tak setitik pun warna yang kutemukan dalam duniaku sekarang. Dan sejak saat itu, aku menyukai warna hitam, karena warna itu yang kini hadir memeluk duniaku, dan membekukannya.
Aku merindukannya, tapi aku hanya bisa melihatnya di dalam mimpi. Aku hanya bisa menyentuh dan tertawa dengannya di dalam mimpi. Aku mulai menyukai dunia mimpi. Dunia yang tak akan pernah nyata. Ya. Tak apa. Biarlah aku hidup di dalam mimpi, karena di sanalah aku bisa tersenyum lepas, bukan terpaksa.
Seorang sahabat berkata, “Fatamorgana itu akan menjadi nyata bila kamu yakin.” Dan sejak saat itu, aku sudah memantapkan hati untuk memulai kisah baru dengan orang baru yang aku cintai. Tapi nyatanya apa? Seberapa pun yakinnya aku, fatamorgana tetaplah fatamorgana. Ia hanya bisa dilihat tanpa bisa digapai, apalagi digenggam, dan tak akan pernah menjadi nyata.
Aku sadar, sekuat apa pun aku menunggu, dia tak akan pernah kembali, dia tidak akan datang, dan dia juga bukan dia yang dulu. Aku sadari itu. Aku ingin sekali pergi, sesuai apa maunya, tapi hatiku tetap tertinggal di sana, di hatinya yang tak lagi kumiliki. Mungkin banyak yang lebih baik dari dia, tapi yang seperti dia tidak akan pernah ada. Cukuplah aku saja yang mencintainya di balik bayang yang tak akan pernah bisa ia lihat dan sentuh lagi. Biarlah aku menjadi bayang yang hidup hanya dalam angan.
Aku tak tahu sampai kapan semua ini akan bermuara. Aku tersesat, aku tak bisa melihat apa pun di depan sana. Hatiku berantakan, pikiranku kacau. Tapi aku tetap berjalan, dalam kekosongan, dalam kehampaan, dan dalam dunia yang semu. Kuterima itu. Ini sudah menjadi bagianku. Bagian sang perasa dan penikmat hidup yang tak akan berhenti mencintai. Karena yang setia, tak perlu diminta untuk menunggu :-)
Naa, 4 Februari 2014
Comments
Post a Comment